13 Maret 2013

how could be?


aku masih di sini, tidak kemana-mana. Bahkan bermain dengan bayanganku sendiripun takut. Aku masih suka begini, gamau ngapa-ngapain dan ga perlu ngapa-ngapain. Sejujurnya aku sendiri tidak pernah tahu sedang menunggu apa atau siapa. Tapi yang jelas, aku belum akan kemana-mana.

Baca Selengkapnya →how could be?

23 Februari 2013

R O D O G :D

semakin pagi saja.. hehe dan raga pun masih betah terjaga sampai saat ini. jika ditanya mengantuk atau tidak? sifat lumrah manusia pasti ngantuk. apalagi jam segini. masih berkutat dengan tugas-tugas yang melambaikan tangannya (alias skripsi). nanti dulu, sebentar lagi, habis ini yaa, ah besok aja deh, akhirnya ga kelar-kelar bikin skripsi dan cari referensinya (ampun daahh). wkekekekek....
sambil ditemani tv yang masih berkikuk-kikuk riuh (emang ayam? -__-). dan ditabrak dengan lagu punya haqqie project yang sedari tadi menyumbangkan suaranya (lagunya di turn repeat on #gubrak). hahaha.. "aku berfikir siapa kau yang pantas tuk sakitiku. kuakui kesalahan bersedih karenamu. takkan ada lagi rasa benci, rindu, sayang. karna kupastikan emosi hatiku telah untukmu" jrenggg... sambil nyanyi, liat tivi, cari referensi, fb twitter blog pun ikut dibuka tapi ga digubris (naah loooh). ayo begadang deh.. ini ada artinya kok begadangnya, jadi plis ya bung roma irama "tolong jangan larang saya buat begadang pagi ini" #salah gaul     (-__-")a
Baca Selengkapnya →R O D O G :D

12 Desember 2012

AKU + DIA = KITA (♥) Last Part


26.08.12 (18.00 WIB)
Angka-angka di atas memiliki sejuta arti sekarang bagiku. Meski hanya masih beberapa bulan dengannya, tetapi aku merasa sangat dekat dengannya. Saat itu, pada tanggal dan pukul itu, dia dan temannya sengaja pamit untuk kembali ke kota dimana dia bekerja. Dia akan pulang ke kota Sidoarjo, sedangkan temannya akan kembali ke kota provinsi Kalimantan. Mulanya hanya berpikir pertemuan seperti biasa antara aku, dia dan temannya. Tetapi di luar dugaanku, dia kembali lagi mengutarakan lima huruf sederhana itu. Lebih dari itu, dia ingin menjadikan aku sebagai pemilik hatinya. Sungguh ajaib ketika dia meminta sesuatu yang bagiku bukan untaian kata sederhana. Lima huruf itu kini menjadi sangat luar biasa.
Waktu pun berlalu hingga hampir larut malam. Dia masih menunggu jawabanku, jawaban antara iya ataupun tidak. Mungkin hanya masalah waktu yang membuatku mampu menjawab pertanyaannya. Tetapi apa yang lagi yang harus aku pikirkan jika memang aku benar-benar ada rasa padanya. Lagi-lagi kutatap matanya seakan tidak percaya dengan kata-katanya. Jujur saat itu mulutku kaku dan sulit untuk mengeleuarkan seucap kata itu. Kata yang sangat singkat tetapi membutuhkan keberanian yang amat besar bagiku. Kuombang-ambingkan ibarat perahu yang sedang berperang melawan ombak di laut. Yaa.. memang kacau saat itu suasana hatiku. Sulit sekali menenangkan ombak yang saat itu pasang di sisi perasaaanku. Di hadapan dia, di hadapan temannya kata itu sungguh amat berat untuk diucapkan. Seakan kata itu ada di kerongkongan dan tidak mau naik ke atas mencari udara segar. Fiuuuh...
26.8.12 (19.30 WiB)
        Angka di atas ini sekarang menjadi awal ceritaku dengan dia. Tanggal dua puluh enam bulan agustus tahun dua ribu dua belas, tepat pukul delapan belas lebih tiga puluh malam aku mampu membungkus semua ketakutan selama ini. Setelah bolak-balik dia menerima telepon dari ibunya, mungkin saatnya waktu itu aku harus berani menjawabnya. Teman dia sudah kembali dulu sebelum aku menjawab pertanyaan dia. Temannya harus balik cepat-cepat ke Kalimantan. Sedangkan dia masih setia menungguku. Menunggu jawaban dariku.
        Kutarik nafasku dalam-dalam.. kubuang jauh-jauh semua pemikiranku tentang masa laluku. Aku tidak mau berpatok dengan apa yang sudah terjadi padaku dulu. Aku hanya butuh spion sebagai tanda peringatanku akan masa-masa laluku. Bukan untuk mengingat ataupun mengenang. “iya” jawabku atas pertanyaannya. Jawaban sederhana yang hanya terdiri dari tiga huruf itu yang sedari tadi susah untuk  kuucapkan. Dan akhirnya aku mampu memberikan jawaban itu kepada dia. Jawaban yang kini membuat hidupku benar-benar berubah. Hujan dan badai itu telah menjauh pergi, dan saat ini hanya ada pelangi yang memiliki berbagai warna yang melukis hari-hariku. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Senang, sedih, duka, gembira, dan sebagainya turut mewarnai kehidupan kita.

Aku + Dia = Kita (Y)
Baca Selengkapnya →AKU + DIA = KITA (♥) Last Part

AKU + DIA = KITA (♥) Part Two


Hari demi hari kulewati seperti biasanya. Dan hariku kini seperti tidak sendiri, ada dia. Dia yang selalu menyambutku dengan ramah lewat pesannya. Dia yang selalu menghiburku meski hanya sebuah untaian kata penyemangat. Yaa.. hari-hariku kini lebih berarti karena dia.
        Tidak hanya itu saja, sahabat yang kukenal semenjak bangku kuliah pun sudah akrab dengannya. Sahabatku yang mendorong aku untuk membuka hatiku. Sahabatku yang menyuruhku untuk berusaha menghilangkan rasa trauma yang sudah menjadi lumut di dinding keangkuhanku. Tetapi memang ini sifatku, dengan karakter yang cuek aku mampu menutupi semua keterpurukanku.
        Entah berapa kali aku menggantung seseorang karena aku tidak bersimpati. Aku hanya tidak ingin membuat mereka kecewa. Menjalani sesuatu yang tidak disuka dan menerima dengan terpaksa merupakan kebodohan yang tidak patut untuk dilakukan. Tetapi rasa ini sungguh aneh, mengapa aku suka lima huruf yang terucap darinya. Mengapa aku tersenyum sendiri ketika membayangkan dia? Sungguh hal yang tidak terduga yang singgah di pikiranku. Bukan... bukan itu yang aku rasakan. Lagi-lagi aku menepisnya!
        Beberapa kali saat dia pulang ke kota ini, hanya lima huruf itu yang selalu dilontarkan saat bertemu denganku. Dan yang aku tahu, aku selalu bingung saat kata itu ditujukan padaku. Aku kikuk dan bibirku kaku untuk mengeluarkan sekelumat kalimat. Hanya kata ‘oalah’ yang aku keluarkan tiap dia bilang lima huruf itu. Benar-benar hal yang aneh... lagi-lagi kata-kata itu yang kukeluarkan dari mulutku.
        Cinta.. yaa lima huruf sederhana itu sepertinya kini mulai melukis hari-hariku dengan kanvas emasnya. Meskipun dengan sedikit guratan yang masih belum tercat dengan baik di sela-sela lukisannya. Pikiranku bercabang melebihi cabang pohon yang teruntai menjulur ke akarnya. Aku hanya tak tahu bagaimana cara memotongnya. Cabang itu ibarat dia dan orang tuaku. Aku serasa memikirkan aturan-aturan diferensial pada pelajaran analisis variabel kompleks. Dia.. bertolak belakang dengan semua sikap yang aku harapkan.
        Seiring waktu, lima huruf sederhana itu membuat dia berubah. Dia menjadi laki-laki yang manis saat di depanku. Dia datang dengan perubaha- perubahan yang memang aku harapkan dari dia. Ini dialah yang aku suka. Ini dialah yang sebenarnya aku tunggu. Dan semuanya kini ada di dia.

*****
        Berkurangnya usia pun kini semakin kurasakan. Dia.. orang yang pertama kali mengucapkan saat aku menempuh usia baru. Ternyata dia tahu bahwa hari ini adalah masa dimana aku pada 20 tahun yang lalu dilahirkan dari rahim seorang ibu. Senyumku mengembang membaca ucapannya meskipun hanya lewat sebuah pesan. Jarak yang memisahkan kita saat ini. Untuk kedua kalinya lagi-lagi senyumku mengembang mendapat ucapan-ucapan lainnya dari sahabatku. Sangat berkesan tanggal 29 Mei pagi itu.
        Bulan tinggal bulan ternyata tidak seindah ketika bulan Mei. Di yang dulu mencoba berubah menjadi apa yang aku suka, kini sudah menjadi milik orang lain. Yaa... bisa diperjelas lagi “orang lain” bukan aku. Kata-kata maaf yang terurai darinya kini yang membuat aku lebih percaya bahwa memang tidak ada yang serius denganku. Hendak menyalahkan kepada siapa lagi kalau bukan diriku sendiri. Lagi-lagi suatu kebodohan yang aku lakukan. Percaya dengan begitu saja setiap kata-katanya dulu. Aku tidak ingin marah ataupun benci kepada dia. Aku hanya menyesal telah megenal baik dia. Meski cukup terpukul, mungkin dengan ini hatiku lebih kebal lagi jika berulang menerima perlakuan yang sama seperti sebelumnya. Hatiku bukan dirancang khusus untuk menerima segala penyiksaaan batin, tetapi hatiku hanya mencoba mengobati setiap siksaaan demi siksaan tersebut dengan segelas kerendahan hati.
        Semua yang kulakukan seperti membuatku linglung dan tidak berguna. Ibarat layangan mungkin akan putus jika ditarik ulur ditarik ulur tak beraturan. Tetapi aku bukan layangan itu.. aku kini sudah menjadi layangan putus yang terbang mengikuti arah angin. Angin membawaku terbang ke arah yang sama sekali tak bertujuan. Semenjak saat itu, prinsipku kuat untuk tidak ingin lagi mengenal seorang adam yang lain. Cukuupp...
*****
Teman-taman dan sahabatku KKN yang saat itu sering menghiburku. Kekocakan mereka seakan membuatku lupa akan semua beban pikiranku. Mereka keluarga besarku di Gedong Kedoan, yang setiap hari Jumat hingga Minggu setia menemaniku. Makan bersama, shalat bersama, dan segalanya kita lakukan bersama. Mereka ibarat penggugah semangatku saat aku terseok-seok dengan langkahku. Mereka seolah menjadi tandu dengan keadaanku yang seperti itu.
Aku sudah lupa meskipun terkadang sempat memikirkannya. Aku masih ingat juga ketika beberapa hari setelah permintaan maafnya. Dia menelponku dengan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Dia hanya takut jika dia hanya berubah dihadapanku saja. Dia hanya tidak ingin memakai topeng di depanku saja. Mulai berputar lagi roda pemikiran ini, tidak tahu apa yang harus dipikirkan. Antara percaya dna tidak percaya mendengar dia berbicara seperti itu. kuminta penjelasan pun juga tidak akan berguna. Karena aku dan dia hanya sebatas teman dan tidak mempunya hubungan lebih.
Aku ceritakan semua bebanku ke sahabat-sahabatku yang memang tidak pernah lelah mendengar semua celotehanku. Mulai dari a sampai z semua kuutarakan dengan penyesalan yang tidak ada ujungnya. Mereka memang sosok pahlawan bagi pemulihan jiwaku. Mereka bukan spiderman, tetapi tanpa serabut jaring seperti yang dikeluarkan spidermen, mereka mampu terbang hinggap melukis warna di kanvas kelabuku. Mereka juga bukan doraemon yang punya kantong ajaibyang memapu mengabulkan permintaan apapun, tetapi mereka memilik benda-benda abstrak yang mampu membuatku bahagia jika berada didekat mereka.
*****
        Pertemuan sengajapun aku lakukan lagi dengannya. Dengan dia yang dulu pernah singgah sebentar di hatiku. Bertemu dengannya aku hanya ingin meminta penjelasan dari dia. Aku hanya ingin mendengarkan semua cerita dia hingga sebegitu lihainya dia melakukan sandiwara itu. Harus percaya ataupun tidak saat itu. Meskipun beberapa kali aku dibodohi karena suatu, tetapi aku masih percaya dengan dia. Aku tidak pandai membaca mata, tetapi jika itu pun suatu kebohongan, aku hanya ingin itu menjadi kebohongannya yang terakhir kali kepadaku.
        Malam itu, malamku dengan dia. Selama masalah itu terjadi, aku jarang bertemu dengannya. Mungkin sudah lama karena terhitung lebih dari satu bulan. Dia kini banyak berubah. Mulai dari tangannya yang kini bersih tanpa beraccecoriskan apapun selain jam tangan yang menempelnya. Lehernya pun sudah tidak kulihat lagi ada rantaian mencolok seperti biasanya. Dan semuanya pun berubah.. Dia menjadi sosok yang benar-benar membuat mataku bersinar takjub melihatnya. Aku yang sekarang ini takut melihat matanya. Aku yang sekarang ini selalu salah tingkah di hadapannya. Aku yang kini selalu berdebar saat berbicara dengannya. Apa ini??.. sesuatu rasa yang sudah mulai muncul dan hinggap di perasaanku. Lima huruf itukah?..
*****
        Aku mulai dekat dengannya lagi setelah kejadian semalam itu. Merasa tidak pernah terjadi masalah-masalah yang dulu pernah membuatku berpikir seribu kali untuk bertemu dengannya lagi. Tetapi kini 180˚ semuanya berubah seperti semula. Dia kini dikembalikan ke kehidupanku olehNya.
Baca Selengkapnya →AKU + DIA = KITA (♥) Part Two

AKU + DIA = KITA (♥) Part One


C

inta,, sebuah kata sederhana yang hanya memiliki lima huruf. Lima huruf yang dapat membuat orang menangis ataupun tertawa. Lima huruf yang dapat membuat orang berduka ataupun bahagia. Lima huruf yang dimana kita tidak dapat mendefinisikannya hanya dengan waktu sehari. Begitu hebatnya lima huruf tersebut hingga ia dapat mengalahkan segalanya, kecuali kekuasaanNya. Lima huruf yang akan dan selalu bermuara, hingga ia menemukan pelabuhan yang menurutnya tepat.
        Bagiku cinta memiliki arti yang luar biasa. Kadang aku tersenyum dibuatnya, tetapi terkadang juga aku dibuatnya menangis. Tatkala hatiku berontak, tetapi cinta selalu datang mendamaikannya. Ia bagai mukjizat sederhana bagi umatnya.. Yaps lima huruf itu memang tidak akan pernah ada habisnya untuk dibicarakan.

*****
        Terakhir kali aku mengenal cinta mungkin sudah lama dan hampir terlupa. Cinta dari seorang laki-laki yang kukenal dengan kepolosan rupanya, kearifan budinya, dan santun tingkah lakunya yang ternyata semua hanya topeng belaka. Topeng yang terpasang dengan rapi dan sebegitu melekatnya hingga membuat semua orang menganggapnya bagai kupu-kupu cantik nan elok. Kupu-kupu yang terbang mencari sari putik yang tak cukup jika hanya dari satu tangkai bunga. Yaa mungkin seperti itu wujud aslinya. Hanya bermodal senyum manis yang tak lain senyum palsu.
        Yang aku tahu.. kini aku harus berjalan setapak demi setapak lagi memunguti sisa-sisa semangatku yang ada. Kuambil segenggam demi segenggam dan kucoba mengumpulkan lagi asaku yang sempat terbuang sia-sia. Seluruh asaku tidak boleh usai hanya karena makhluk sepertinya. Sopan sekali aku menyebutnya makhluk?? makhluk Tuhan yang baik tidak akan akan tega melakukan hal semacam itu. Tuhan saja tidak akan pernah mengecewakan umatnya yang berusaha mencintaiNya. Mungkin selama ini cintaku lebih besar kepadanya hingga aku melalaikan untuk mencintai Sang Pemilik Cinta yang Kekal, yaitu Allah SWT. Sadarku Allah tidak pernah menduakanku. Sadarku Allah selalu ada untukku saat aku jatuh. Sadarku Allah yang dapat membuatku terbangun dari mimpi-mimpi burukku. Sadarku yang tidak pernah sadar akan keberadaanNya. Menangis tersedu aku dalam sejudku malam ini...
*****
        Sehari, seminggu, sebulan bahkan hampir kulewati setahunku hanya dengan kesibukanku. Hanya bekerja, kuliah dan bermain yang aku lakukan untuk mengisi kegiatanku. Lumayan untuk merefresh pikiranku yang mulai jenuh dan mengisi ruang hampa yang memang benar-benar kosong saat itu. Aku menikmati saat-saat seperti ini. Yang aku takutkan justru ketika aku beranjak tua dan aku menyesal tidak pernah menikmati masa remajaku. Masa-masa dimana aku dapat sepuasnya melakukan hal-hal yang berguna. Mengejar cita-citaku, membahagiakan orang tua, bermain bersama teman karibku, memiliki sesuatu yang sangat aku mimpikan sedari dulu, dan lain sebagainya yang ingin kuwujudkan pada masa itu.
        Aku tidak pernah merasa sendiri. Bahkan aku tidak pernah merasa iri jika aku berjalan dengan sahabatku yang masing-masing membawa pasangannya. Aku juga tidak pernah merasa terabaikan ataupun menjadi obat nyamuk saat bersama mereka. Aku tidak pernah kecewa dengan takdirku. Kalau ada orang berkata “Jalani hidup bagaikan air  yang mengalir”, bagiku mereka salah menafsirkan. Menjalani hidup, menjalani takdirnya sebisa mungkin kita berusaha untuk merubah hidup dan takdir kita menjadi indah. Menjadikan mereka mengalir ke arus yang airnya jernih, menyegarkan dan bermanfaat. Bukan hanya dibiarkan mengalir, karena kita tidak akan pernah tahu kemana mereka akan bermuara.
        Kejadian lucu, aneh dan berkesan datang silih berganti mnghampiri roda kehidupanku. Mulai berkenalan dengan teman sahabatku sendiri, kakak teman sekuliahku, dan makhluk-makhluk lainnya. Tidak ada sesuatu yang lebih saat bersama mereka. Mereka sudah seperti kakakku sendiri, meskipun perhatian mereka terkadang lebih. Perhatian yang membuatku risih sebenarnya. Sahabatku sendiri hampir marah dan bingung melihat tingkahku yang sepertinya tidak mau lagi mengenal makhluk yang benama laki-laki. Mereka bilang aku kaku dan keras. Yaa.. aku memang telah kehilangan hasratku untuk mengenal mereka.
*****
        Satu tahun sudah akan berlalu, tetapi aku masih asyik sendiri dengan hidup yang kubuat sendiri. Aku hanya ingin suatu saat aku akan menoreh pelangi di atas langit pikiranku, menghapus awan hitam yang berkubang di sana. Seperti apa yang pernah aku ingat saat membaca suatu blog “Akan ada pelangi setelah hujan”. Akan ada sesuatu yang indah setelah melewati cobaan yang diberikanNya. Tidak ada gunanya hanya mengeluh dan berburuk sangka kepadaNya. Karena yang aku tahu, Dia sudah menyiapkan sesuatu lebih spesial untuk kita yang memang spesial.
        Pertemuanku dengannya tidak pernah terduga dan terbayang. Saat pertama bertemu pun tak ada kesan yang berarti, biasa saja bagiku. Seperti halnya bertemu dengan teman-teman lamaku yang lainnya. Kami memang lama tidak pernah bertemu, mungkin sudah hampir lima tahun ataupun lebih. Sebegitu lamanya hingga aku lupa. Dia yang ternyata mantan dari seorang sahabatku, sekarang begitu memiliki arti yang sangat besar bagiku.
        Pertama kali bertemu hanya biasa saja, tersenyum layaknya memnyapa orang yang memang lama tidak pernah bertemu. Berkomunikasi pun tidak, hanya senyumnya yang berbicara. Yang aku tahu sahabatku masih menaruh hatinya pada dia, meski aku tahu sahabatku sudah punya penggantinya. Aneh memang kedengarannya.. sudah memiliki tambatan hati, tetapi masih mengenang yang sudah-sudah. Dan aku pun hanya bisa mendengarkannya berbicara tentangnya. Lima huruf itu memang aneh, dia dapat dengan mudah membolak-balikkan perasaan seseorang dengan cepatnya. Begitu hebat Tuhan mencpitakan lima huruf tersebut.
        Kedua kalinya tidak sengaja bertemu lagi dengan dia. Dan yang sangat aku herankan, sahabatku lagi yang membawa aku bertemu dengannya. Sahabatku memang sengaja bertemu dengan temannya yang sedang berlibur di kota ini, Gresik. Dan yang baru aku tahu juga, temannya adalah seseorang di masa lalunya yang tidak lain adalah teman dari dia. Dunia memang tidak selebar daun kelor. Bertemu dia tidak ada firasat bahwa aku akan tertarik bahkan jatuh cinta kepadanya.
        Dia hadir bukan dari sekali atau dua kali bertemu. Lagi-lagi dia hadir lewat pesan masuk di handphoneku. Entah darimana dia memliki nomorku aku tidak pernah memikirkannya. Dia teman masa smp ku, dia yang aku sudah lupa apa aku pernah sekelas dengannya saat masa sekolah itu. Mungkin lebih tepatnya tidak pernah sekelas dengan dia, tetapi aku kenal dia. Dan hari-hariku kini seiring waktu menjadi aneh saat membaca pesan-pesan masuk darinya. Sering tersenyum sendiri, terkadang juga cemberut membacanya, hal yang aneh terjadi padaku setelah sebelumnya aku tidak pernah seperti itu. Kuingat lagi lima huruf itu.. tapi buru-buru kutepiskan. Ini bukan....
        Ternyata pertemuanku dengan dia tidak hanya terjadi lewat pesan di handphone. Pertemuan yang selanjutnya terjadi memang disengaja tidak seperti sebelumnya. Lagi-lagi hal yang aneh menggerogoti pikiranku. Lima huruf itu terbayang-bayang saat melihatnya. Yang aku takutkan jika dia memiliki rasa itu kepadaku. Sedangkan aku masih tidak ingin memikirkan hal itu. aku masih tramua dengan segala apa yang berkaitan dengan lima huruf itu. Aku hanya ingin dekat dan mengenal dia lebih jauh, tetapi bukan untuk menjadikannya sebagai tempatku bermuara.

Baca Selengkapnya →AKU + DIA = KITA (♥) Part One

28 November 2012

Dia - Sammy Simorangkir

Dia hanya dia di duniaku
Dia hanya dia di mataku
Dunia terasa telah menghilang
Tanpa ada dia di hidupku
Sungguh sebuah tanya yang terindah
Bagaimana dia merengkuh sadarku
Tak perlu ku bermimpi yang indah
Karena ada dia di hidupku
Ku ingin dia yang sempurna (yang sempurna)
Untuk diriku yang biasa (yang biasa)
Ku ingin hatinya, ku ingin cintanya
Ku ingin semua yang ada pada dirinya
Ku hanya manusia biasa (yang biasa)
Tuhan bantu ku tuk berubah (untuk berubah)
Tuk miliki dia, tuk bahagiakannya
Tuk menjadi seorang yang sempurna untuk dia
Ku ingin dia yang sempurna (yang sempurna)
Untuk diriku yang biasa
Ku ingin hatinya, ku ingin cintanya
Ku ingin semua yang ada pada dirinya
Ku hanya manusia biasa (yang biasa)
Tuhan bantu ku tuk berubah (tuk berubah)
Tuk miliki dia, tuk bahagiakannya
Tuk menjadi seorang yang sempurna untuk dia
Baca Selengkapnya →Dia - Sammy Simorangkir

14 Oktober 2012

GeJeBe

"apa yang anda pikirkan?" atau terkadang ditulis "what'a on your mind?"
Kalau sudah begini saya juga bingung untuk memikirkannya. Karena saya sedang tidak memikirkan apapun untuk saat ini. Udara mulai menyeruak membuat ikan-ikan kepanasan, jangankan ikan-ikan...! saya juga ikut panas. Padahal jam dinding, jam tangan, jam karet, jam apapun sudah menunjukkan waktu sore hari. Matahari juga sudah akan beranjak nomaden lagi ke negeri lain. Tapi kenapa serasa di pemanggangan roti..
waashhh.. tambah  membuat saya kebingungan di antara hiruk pikuk suara tv, suara mp3, suara kipas, dan layar laptop sendiri.
Yang tadinya pengen cari judul tapi kenapa otak ini nggak mau buat diajak kerja sama. Bolpoin yang sedari tadi menari-nari indah juga sudah capek, gimana tidak capek? toh yang ditulis bukan apa-apa dan tidak jelas. huaaah suramm poll.. Niat cari referensi judul tapi tidak ada satupun yang terpikirkan. Sedangkan sedari tadi hanya ada kata-kata "apa yang anda pikirkan?" saat mengintip situs jejaring sosial. hmmm.. tutup laptop ae wess.. shutdown braakk (eh keliru)
Baca Selengkapnya →GeJeBe